81 Tahun Merdeka, Warga Kota Langsa Terkesan Masih "Dijajah" dengan Adanya Diduga Maraknya Aroma Nepotisme dalam Merekrut Pimpinan yang Berkwalitas - INVESTIGASI TOP

Jumat, 18 September 2026

81 Tahun Merdeka, Warga Kota Langsa Terkesan Masih "Dijajah" dengan Adanya Diduga Maraknya Aroma Nepotisme dalam Merekrut Pimpinan yang Berkwalitas


InvestigasiTop.com
l KOTA LANGSA — Kekeringan pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Langsa terus berlangsung bertahun-tahun dan tak kunjung teratasi. Kondisi ini memicu kemarahan mendalam masyarakat, khususnya para pelanggan, yang merasa diabaikan sekaligus ditindas oleh para pemimpin daerah maupun wakil rakyat.
 
Sejak lama, warga seolah tak memiliki hak dasar untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar: mandi wajib, buang air besar, hingga mengambil air wudhu. Air dari keran PDAM nyaris tak pernah mengalir lancar. Jika ingin mendapatkan air, warga terpaksa menggunakan pompa mesin—yang berarti membebani biaya tambahan di luar tagihan yang tetap dibayarkan setiap bulan.
 
Alih-alih mencari solusi demi kesejahteraan rakyat, justru muncul dugaan kuat bahwa pengelolaan PDAM lebih diarahkan untuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompok. Belum lagi, posisi pimpinan di lingkungan PDAM Kota Langsa sejak lama disinyalir sarat dengan praktik nepotisme—jabatan diwariskan atau diberikan kepada kerabat terdekat tanpa memandang kemampuan.
 
Menjelang pemilihan umum, fenomena makin terlihat jelas: berbondong-bondong calon pemimpin, baik eksekutif maupun legislatif, tampil ke muka mengaku paling mampu membangun Kota Langsa. Namun begitu duduk di kursi kekuasaan, janji-janji manis yang diucapkan saat kampanye berubah menjadi kebohongan belaka.
 
Zulfadli, S.Sos., I.M.M., pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) BLJ, menyampaikan kegelisahan yang mewakili ribuan pelanggan PDAM lainnya.
 
"Negara kita sudah berusia 81 tahun merdeka, namun dirasakan kami seolah-olah masih dijajah. Kebutuhan air bersih untuk buang air besar, untuk wudhu, hingga mandi wajib saja kami masih kewalahan."
 
Zulfadli juga menyentuh sisi keagamaan yang menjadi ciri khas daerah ini.
 
"Katanya Aceh ini Serambi Mekkah, pemimpinnya orang beragama Islam. Masalah sebesar ini saja kurang diperhatikan. Jujur saya bertanya-tanya: apakah agama Islam para pemimpin di Kota Langsa itu hanya tertulis di KTP saja," jelasnya.
 
Pertanyaan tajam itu terucap lugas dari bibir Zulfadli, mewakili suara rakyat yang lelah menunggu perubahan nyata. Masyarakat berharap bukan sekadar janji manis saat kampanye, melainkan tindakan nyata—agar setiap warga Kota Langsa akhirnya bisa menikmati hak dasarnya: air bersih yang mengalir deras, tanpa harus memohon, tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan, dan tanpa merasa diabaikan oleh mereka yang dipilih untuk memimpin.
 
Team Investigasi
Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done